FahdiMaula

Jan 30, 2016

Job, Career, or Calling

Hari ini rekan-rekan SMA saya satu angkatan mengadakan reuni, meski dipersiapkan dalam waktu dua bulan, dan dilahirkan dari ide spontanitas, acara berlangsung cukup meriah. Bandung adalah kota yang hangat, selalu menampakkan charming-nya, hingga reuni, nostalgia, dan bandung, seperti tiga saudara kembar yang tidak mudah dipisahkan. Kenangan masa SMA, baik sedih, baik bahagia, baik senang, baik gembira, maupun duka. Hari itu, menjadi hari mengenang, persahabatan, setelah 15 tahun yang lalu lulus dari SMA Muthahhari Bandung.

Ini tulisan bukan tentang reuni sebenarnya. Pagi sebelum acara reuni, saya dan beberapa teman saya mengisi acara Career Day di SMA Muthahhari, di bilangan Kebaktian, Jalan Kampus 2. Terus terang meski sering mengisi acara seperti ini, saya tampak gugup. Karena harus bicara, bagaimana mengatasi kebingungan setelah lulus SMA. Bingung memilih jurusan, bingung bagaimana lagi selanjutnya. Karena ketika itu, yang ada di benak saya bukanlah persiapan untuk apa yang saya lakukan saat ini. Saya tidak memilih Geofisika, karena memang saya mau menjadi geofisikawan.

Tapi lagi-lagi tulisan ini bukan bagaimana berbicara tentang kebingungan, ngelantur terus yah, acara Career Day tadi diisi oleh Kiai saya, Kiai Jalaluddin Rakhmat. Beliau memberi nasihat, yang bagi saya seperti setetes embun yang memberikan kesegaran atas kegundahan karir saya selama ini. Beliau bilang, saya mengquote tidak verbatim, pekerjaan itu bisa dibilang ada 3, entah itu sebagai job, atau career, ataupun calling. Beliau mencontoh bagaimana filsuf Karl Marx, dalam pekerjaannya sebagai ilmuwan, menulis buku melawan kapitalis, memberikan pembelaan kepada kelas proletar, Karl Marx menganggap itu sebagai calling-nya atau misi hidupnya, atau panggilan hidupnya. Sehingga ketika Ia matipun, mati dalam keadaan kelaparan di perpustakaan, sebagai proletar. Bagi saya ternyata menganggap pekerjaan sebagai passion adalah suatu hal yang masih dangkal. Mau tidak mau pekerjaan mengambil sebagian besar dari waktu saya. Sehingga seharusnya itu didasari oleh apa yang menjadi panggilan hidup kita.

Di ujung nasihatnya, Ustad Jalal memberi pesan, sebagai alumni Muthahhari, sebagai bagian dari komunitas Muthahhari, apa yang seharusnya menjadi calling kita adalah membela masyarakat kecil, membela mustadafin.

Dan bagi saya, Bandung kembali memberikan kenangan, pelajaran, nostalgia. Silaturahmi yang memberi berkah.

Click to read and post comments

Jan 01, 2016

Yang Harus Dilakukan di Tahun 2016

Beberapa hal berikut adalah yang orang biasa bilang resolusi tahun baru, tiap tahun bagi saya, resolusi saya masih tetap 1920x1080, di retina display. Jadi tidak ada yang perlu dirubah. Ini adalah daftar yang lebih baik saya sebut sebagai Hal-hal yang harus dilakukan di tahun 2016

Teknikal

  • Setidaknya menyelesaikan satu proyek pribadi, entah itu crosswell, atau inversi, atau suvsp, atau mungkin hepeng.
  • Setidaknya menyelesaikan satu proyek sampingan di kantor, entah itu wavel, atau seli, atau reporter.

Personal

  • Ambil sertifikasi IELTS atau TOEFL
  • Belajar bahasa Mandarin, atau Prancis, atau Jerman.
  • Mulai olahraga dengan serius yea right.
  • Baca buku lebih banyak.
  • Menulis lebih sering, dan lebih baik lagi. Baik tulisan pribadi, maupun teknis.

Keluarga

  • Liburan keluarga yang lebih berkesan, Europe mungkin.

Finansial

  • Mengatur portfolio lebih rapih, membuat strategi dengan baik per-sektor, lebih serius lagi dalam berinvestasi.
  • Menabung untuk liburan keluarga.
  • Mengatur pengeluaran lebih rapih, tidak ada lagi pengeluaran yang tidak penting.
  • Hayang siga Aa Pidi Baiq, soleh, ejeung sok sodaqoh. Saya harap Anda mengerti apa yang saya bicarakan.
Click to read and post comments

Dec 31, 2015

Tahun 2015 Bagi Saya

Ada satu bagian dari diri saya yang meyakini, bahwa tahun dengan angka ganjil adalah tahun keberuntungan saya. Tahun 2001, saya masuk ITB, tahun 2005, saya lulus. Tahun 2007, masuk UI, tahun 2009, saya lulus. Tahun 2007, juga saya berhasil mengurus family day di kantor dengan sukses. Kemudian tahun 2013, saya transfer ke Malaysia. Meski tidak semua tahun ganjil adalah tahun yang beruntung. Apalah percaya dengan angka dan keberuntungan :) Toh tahun 1984 saya lahir, tahun 2006, saya gabung ke kantor yang sekarang, tahun 2010 pun saya nikah, dan 2014 Marin, anak saya lahir. Semua angka punya kenangan dan keberuntungan masing-masing.

Ini kali di tahun 2015, achievement yang spesial bagi saya adalah promosi menjadi team leader di kantor. Diam-diam dari dulu memang saya pernah memikirkan atau membayangkan kalau saya akan berada pada posisi itu. Yang saya tidak bayangkan adalah, saya menjalani posisi itu di saat yang kelam seperti ini. Kelam dalam artian bisnis sedang tidak bagus. Harga minyak sedang jatuh turun. Situasi yang sulit. Meski, diujungnya tahun 2015 ini adalah tahun yang menarik bagi saya. Nanti saya cerita sejauh itu. Posisi ini diberikan kepada saya, dalam rangka restrukturisasi kantor, manager saya sebelumnya ditransfer balik ke negara asalnya. Sehingga, sebagai salah satu senior yang tersisa, saya direkomendasikan untuk menggantikan dia.

Desember 2014, merupakan bulan yang indah. Marin lahir. Dan di bulan itu juga, saya unofficially sudah mulai menjalani handover posisi team leader dengan manajer saya sebelumnya itu. Belum pun saya resmi menjadi team leader, tim kami harus kehilangan satu anggota kami. Alasan restrukturisasi. Ketika itu, disaat bertemu dengan kolega saya yang harus 'pergi' dari kantor, saya cuma sanggup bilang, "Let's keep in touch." Saya masih lempeng, berharap ini cuma terjadi sekali saya, dan saya tidak harus mengalaminya lagi.

Kuartal pertama 2015, memang masa yang berat bagi industri saat itu. Begitu juga pada kantor saya. Sehingga dua orang tim kami pun harus 'pergi'. Dan ketika itu saya sudah resmi menjadi team leader. Sangat berat perasaan hati saya. Pertama kali ada anggota tim saya yang harus pergi, hari itu saya tidak nyaman. Karena tahu akan ada yang di-release. Pun ketika pulang dari kantor, perasaan hati masih tidak nyaman. Naif mungkin. First time dalam posisi seperti ini. Tapi perasaan hati saya bilang, "Kalau memang mau di-release, kenapa dulu di-hire banyak-banyak". Apalah saya ini, manager paling bawah. Bos area Asia saat itu cuma bilang, "Don't worry the stuff that you can't control".Syukurnya, kuartal kedua dan kuartal ketiga bisnis membaik setidaknya di Malaysia. Rasa hati cukup bahagia, karena tim kami perform jauh lebih baik dari yang diperkirakan. Meski, faktor keberuntungan sangat berperan disini. Kini di akhir tahun fiskal 2015, grup kami mencatat kenaikan revenue sekitar 15% dari tahun 2014. Dengan jumlah personel 40% lebih sedikit dibanding 2014.

Terus terang, saya bukan manager yang baik. Saya membuat banyak bawahan saya tidak nyaman dalam bekerja. Saya mendorong mereka terlalu jauh, dalam artian yang negatif. Tetapi, ini adalah keputusan yang harus saya ambil. Suka atau tidak suka, dalam pendapat saya ini demi tim, dan demi masa depan mereka juga. Setidaknya itu yang saya bilang di hati saya. Egois memang. Semoga mereka bisa melihat dari sisi yang baiknya, dan mengambil setidaknya hal yang baik untuk mereka.

Kalau dibilang, memang tahun ganjil adalah tahun yang beruntung bagi saya. Menatap 2016, dengan perkiraan target revenue yang saya buat, sepertinya jauh lebih pesimistik. Adakah saatnya saya mundur? Atau lebih tepatnya lari dari masalah. Atau mencoba merubah keadaan pesimistik ini? Mungkin mencoba adalah langkah yang tepat. Tetapi pertanyaan berikutnya, untuk siapa? kalau sukses untuk siapa? kalau tidak sukses untuk siapa?

Wallahu a'lam bi shawab

Selamat Tahun Baru 2016, Semoga yang dicita-citakan tercapai.

Amin

Click to read and post comments

Dec 23, 2015

How many email address do you have now?

Berapa banyak email address aktif yang Anda miliki dan gunakan saat ini?

Berikut ini adalah email yang aktif saya gunakan saat ini, selain email korporat saya tentunya,

  • fahdi104 at yahoo, dibuat ketika kuliah, untuk keperluan yahoo messenger. Klasik.

  • mfhd104 at gmail, email generik yang saya selalu gunakan untuk handle dan register yang umum

  • maula.fahdi at gmail, dibuat ketika mau lulus itb, dan saya tulis di TA saya sebagai contact address. Sekarang kadang digunakan untuk keperluan resmi

  • fahdi at gm2001, email official sampai sekarang, tapi karena sudah 2015, sepertinya sudah tidak relevan lagi, ingin saya pensiunkan

  • f at hdi.maula.me, email baru untuk menggantikan gm2001 domain

Click to read and post comments

Dec 17, 2015

Dinamika Waktu dan Kita

Bukan satu dua kali, tapi mungkin berkali-kali, begitu banyak hal yang terjadi pada kita. Tapi kita tidak sanggup menjelaskan, mengapa hal itu terjadi. Saya tidak bicara sains, atau mistis. Saya bicara realita. Saya coba membahasakannya sebagai dinamika kita dan waktu. Pembicara lain mungkin menjelaskannya sebagai Connecting the dots. Alim ulama mungkin menulisnya sebagai mukjizat, atau karunia.

Di tahun 2014, setelah hampir 4 tahun menikah kami belum dikaruniai seorang anak. Awalnya kami biasa saja, bahkan merasa anak bukan prioritas. Atas nama karir, cita-cita, jiwa muda, kepingin main, dan lain sebagainya. Hingga perlahan pada akhirnya muncul juga rasa sedih, karena belum di karuniai seorang anak.

Jalan masih panjang, bahwa akhirnya kami sadari, bagi kami tidak semudah itu untuk memiliki anak. Masih segar dalam ingatan saya, ketika pulang dari rumah sakit, istri saya tersedu menahan tangis di dalam mobil menuju pulang ke rumah. Belum hampir setahun ketika itu kami tinggal di Kuala Lumpur. Sebagai suami, saya merasa hopeless, karena cuma bisa menenangkan dengan kata-kata saja. Empati ada. Tapi apalah artinya empati, kalau bukan kita sendiri yang merasakan.

Time goes by. Perlahan saya dan istri saya melupakan kesedihan itu, sambil berkeyakinan untuk serius memprogram untuk memiliki momongan. Beberapa minggu (atau bulan) pertama dalam program itu, ada satu dua kali false alarm. Jalan masih panjang. Mungkin itu yang terus diingatkan kepada kami. Hingga suatu ketika kalkulasi kami sedikit meleset, sambil malu-malu untuk membeli test pack di apotek. Lalu keesokan paginya, syukur kepada Yang Maha Kuasa, hasilnya positif. Dan dokter pun mengkonfirmasi akan hal itu. Ini adalah kejadian pertama dari rangkaian kejadian yang kami tidak dapat jelaskan mengapa hal itu bisa terjadi. Saya percaya itu karunia.

Saya harus mengulang lagi, bahwa memang jalannya masih panjang. Awal kehamilan adalah masa-masa kritis. Rumah sakit awal kami berobat cukup jauh dari tempat kami tinggal di Setiawangsa saat itu. Ketika itu, istri saya merasa kurang sehat, dan karena itu berhubungan dengan kehamilan, kami berpikir untuk lebih hati-hati, dan akhirnya berobat ke rumah sakit yang lebih dekat dengan rumah. Memang kami telah berencana untuk periksa kehamilan di dokter rumah sakit tersebut. Yang tidak kami pikirkan adalah, dokter obgyn yang kami tuju adalah dokter yang terkenal, sehingga kami harus antri 3-4 minggu untuk cek kehamilan saja. Mungkin karena beliau adalah dokter obgyn perempuan. Di ruang general practice rumah sakit pagi itu, dokter umumnya menyarankan untuk periksa ke dokter obgyn yang saat itu tersedia, bukan dokter yang kami tuju. Kami iyakan saja. Hingga akhirnya 2-3 bulan kontrol ke dokter tersebut kami menyadari, kalau hari itu kami tidak dirujuk ke dokter tersebut, mungkin pengalaman kehamilan istri saya tidak begitu menyenangkan. Mengapa? dokter perempuan yang pertama adalah dokter yang sibuk, kami dengar dari beberapa pasiennya, untuk kontrol saja meski sudah membuat janji, kita tetap harus menunggu 2-3 jam sampai giliran kita diperiksa. Belum lagi dengan banyaknya pasien beliau, jadwal temu janji pun sulit dibuat. Sementara dokter yang kami tuju, pasiennya tidak begitu banyak, kalau kami buat janji untuk jam tertentu, kami pun tidak harus menunggu lama. Sampai akhir-akhirnya, beliau seperti seorang Bapak bagi kami. Di awal kami tidak menyadari bahwa pilihan ini adalah pilihan yang lebih tepat bagi kami. Bagi saya pribadi, rangkaian yang pada akhirnya membawa kami memilih dokter obgyn tersebut, adalah kejadian yang kami tidak bisa jelaskan. Dia Yang Maha Kuasa memberikan karunia kemudahan bagi kami.

Bahwa memang jalan itu panjang. Dan tidak mudah. Kita, Pria, tidak mengalami hal itu. Dengan berbagai perubahan fisik badan, internal, dan banyak lagi. Yang paling penting adalah perubahan mood, dan emosi. Itu bukan sesuatu hal yang mudah untuk dijalani. Dan pria, skill utama kita adalah ngomong doang. Saya menyarankan ikut yoga atau senam hamil. Browsing sana-sini, sampai akhirnya ketemu Yoga studio dekat rumah. Dan entah mengapa, saya tidak dapat menjelaskan, di tempat yoga itu istri saya bertemu dengan 2 calon ibu-ibu lainnya. Yang mana, umurnya dalam rentang yang sama, sama-sama hamil anak pertama, sama-sama orang Indonesia, suami mereka sama-sama expatriate di Kuala Lumpur. Yang menarik lagi, rentang kehamilan mereka berbeda pas 1 bulan. Hal yang berat itu memang ada baiknya dibagi bersama. Dalam konteks ini, ibu-ibu hamil ketemu dengan sesamanya, adalah hal yang positif, karena beban yang ditanggung bisa diceritakan bersama, sharing bersama. Sehingga jadi ringan adanya. Ditambah lagi, ketika saya ditugaskan ke Kuala Lumpur, ada seorang lagi kawan dari Jakarta yang ditugaskan hampir bersamaan. Istri dia baru melahirkan beberapa bulan sebelumnya. Dan yang menarik istri dia adalah psikolog anak. Dan betapa beruntungnya kami, karena itu seperti mau ujian tapi asisten dosennya duduk disebelah kita untuk bantuin kita. Semuanya kebetulan? Mungkin. Semuanya diatur? Ya. Tapi bukan manusia yang mengatur. Ini adalah sesuatu yang saya tidak bisa jelaskan. Bagaimana semua ini tiba-tiba terjadi. Seperti bintang tiba-tiba berjajar sebagai garis lulus, membantu kami.

Di antara 9 bulan masa kehamilan itu, banyak lagi karunia-karunia, entah kecil entah besar. Tapi saat ini saya lupa, mungkin lain kali saya tulis lagi. Puncak dari semua itu ialah satu tahun yang lalu. Tepat satu tahun dari tulisan ini dibuat. Oleh dokter, bayi kami diperkirakan lahir sekitar 26 Desember. Hari itu 17 Desember, pagi itu baru saja kami periksa dokter. Persiapan untuk melahirkan. Esoknya, adalah 18 Desember. Jelas. Hari spesial. Hari ulang tahun pernikahan kami. Tahun itu adalah 4 tahun kami menikah. Malam hari, 17 Desember, kami terus berbincang mau diisi apa hari jadi pernikahan kami. Makan malam itu, kami jelas ingat. Saya dan istri pergi ke Wangsa Walk, di Restoran TGIF, Istri saya memilih sirloin steak seperti biasa, saya tetap dengan tenderloin steak. Saya sempat browsing-browsing kemana saya akan bawa istri saya untuk special anniversary dinner keesokan harinya. Yang istri saya tidak tahu. Dalam hati, saya bergumam keras, bahwa kalau saja anak saya lahir esok hari. Ia akan menjadi kado spesial untuk hari pernikahan kami. Seingat saya, sempat saya sampaikan gumaman saya kepada istri saya di malam itu. Cuma kami anggap itu cuma joke belaka.

Hingga akhirnya, sekitar jam 3 pagi, istri saya bangun. Dan entah mengapa, saya pun bangun, istri saya memberi tahu kalau dia sudah pecah ketuban. Saya tanya lagi, benar tidak? Dia yakin. Hingga akhirnya kami memutuskan, segera saat itu juga kami ke rumah sakit. Saya yang malam sebelumnya berharap anak ini lahir tepat pas 18 Desember, berasa sedikit berbunga-bunga. Tak lama kemudian kami pergi ke rumah sakit, dengan cueknya, tanpa persiapan yang banyak. Sampai di rumah sakit, suster mengkonfirmasi kalau betul telah pecah ketuban, dan disarankan untuk stay di rumah sakit untuk siap persalinan. Saya tidak bisa menjelaskan kenapa tiba-tiba persalinan itu lebih cepat 11 hari dari yang dokter sarankan. Saya juga tidak bisa menjelaskan kenapa 11 hari yang lebih cepat itu, jatuh tepat pada hari jadi pernikahan kami. Ada Hal yang mengatur semua ini. Ada Kuasa yang lebih yang mengatur semua. Semuanya teratur rapi.

Belum bosan saya bilang bahwa jalan itu panjang. Istri saya mulai berada di kamar rumah sakit sekitar pukul 4-5 pagi. Itu masih bukaan awal, masih jauh menuju persalinan. Lagi-lagi saya lelaki, tidak mengerti apa-apa. Dari sekitar jam 7-8 pagi dicoba dengan persalinan normal. Sampai ke siang, belum ada kemajuan yang cukup berarti. Dokter menyarankan untuk induksi. Malam sebelumnya, dan beberapa bulan sebelumnya istri bilang, kalau bisa jangan sampai induksi. Dan akhirnya istri saya tidak bisa menghindari itu. Sakit katanya. Banget. Dan itu bukan cuma 2-3 jam. Hampir 4-5 jam proses induksi, hingga ke sore hari. Saya cuma bisa menemani di kamar rumah sakit itu. Memegang tangannya erat. Mencoba berempati. Sedih rasanya, kalau bisa saya saja yang sakit. Hingga akhirnya setelah sekian lama tidak ada kemajuan, dokter memutuskan untuk operasi caesar saja. Sudah sore saat itu. Istri saya masuk ruang operasi, tepat pukul 18.00. Dokter mengizinkan saya untuk ikut operasi, tetapi saya putuskan saya tidak ikut ke ruang operasi, ya ini adalah hal yang saya sesali sampai saat ini. Operasi cukup cepat kata istri saya. Ketika bayi dilahirkan. Dokter melihat jam untuk mencatat jam kelahiran anak saya. Anak saya lahir tepat 18 Desember 2014, pukul 18.18. Saya tidak begitu percaya angka cantik. Tapi ini jelas diluar kemampuan saya untuk berpikir. Ada kuasa Maha Hebat, yang mengaruniai kami seorang anak. Yang lahir sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kami. Yang entah mengapa lahir tepat di pukul 18.18. Foto berikut adalah wajah pertama yang saya lihat. Cantik. Saya seperti terbang saat itu. Tidak percaya. Saya merasa tidak bermakna, di depan bayi yang murni itu. Apalah artinya dunia ini, ketika melihat bayi cantik itu.

Marin Lahir

Hari ini, setahun kemudian. Saya menyadari, begitu banyak hal yang terjadi diluar kuasa saya. Hal yang tidak bisa saya jelaskan. Di luar kemampuan saya berpikir. Kesimpulan saya, Yang Maha Kuasa sayang kepada saya. Saya sombong mengutuk keadaan saya yang tidak bahagia saat ini. Tetap kalau melihat ke belakang, atas jalan yang panjang, betapa bodohnya saya kalau tidak menyadari bahwa banyak dinamika waktu yang kita tidak sadari, bahwa Yang Maha Kuasa sayang kepada kita. Di ujung jalan ada kebahagian, mungkin memang jalannya harus sulit begini.

Click to read and post comments

Dec 02, 2015

Cursing? Again!!!

The world has started to think how to produce cheaper and greener technology. It got me thinking, that's how I am supposed be doing, instead of sitting here cursing myself on thks dreary job.

But then again, I'm back to my life and there are bills to pays.

That's real. Real is life. And real is sucks.

Click to read and post comments

Nov 02, 2015

Resolution after October Vacation 2015

I should write this, after all, I spent a lot of money for my vacation, I should get something out. The resolution of my contemplation.

  1. I should read more books. Especially about parenting. Apparently you cannot do trial and error in raising kid.
  2. I should write more. Write about anything.
  3. I should re-structure my finance. Properly setup trust fund for my kid.
  4. Now I forgot, what else.
  5. Get back in shape, find recreational sport activity for me and my family.

should get back to update this list, once I remember :)

Click to read and post comments

Oct 26, 2015

Something in the Past

Once when I was younger than I am now, I know what my dream was. Technically maybe not a dream, but something that I supposed to do. It has something to do with candle. It was an advice from Kahlil Gibran, taken from his story about a fly that got upset because the fire from the candle burnt his wing. The candle said, I am the one who burnt to death, just to light up the night, and you hate me because I burnt your wing. Look at me, said the candle.

I wrote that passage in my cupboard door in my dorm room in high school. Knowing that sacrifice for others is the highest of all. Naively understood what that means, and applied to my life. It was nothing wrong with it. Even more, it more applicable now in my 30 years of life. 

What went wrong was the way I lived my life. The way I didn't understand how to balance between sacrifice and my own ego. Funnily, what went wrong was I actually didn't know what my ego was. What was I supposed to be.

Funny, because I thought I know what I dreamt of. Because, now I don't even walking on that path. I forgot that dream was not given to you. 

Its too far now. 

Click to read and post comments

Oct 25, 2015

Happy Birthday Genia

No one can match your patient and passion. How the burden of caring and endless loving for a child, its just you redefine the definition of motherly love. You are what your daughter will look upon to, a caring mother, a loving mother.

Not even in my dream i can imagine that i can carry your burden that far, yet you've come even farther. Not even once I think i can have years of sleepless night, yet you challenged that until the maximum of time.

I pray for your health, I pray for your love. I pray for Marin that she'll always look up to you. I am nothing without you, yet you bring me this far from inexistence to a something.

You gave me the greatest gift of my life, yet i can only take you for a shitty vacation. Happy birthday Genia, my other half. Now the storm looks nothing when you're beside me.

Click to read and post comments

Oct 24, 2015

Reminder to Myself

I want to remind you that financial success is not the only goal or the only measure of success. It’s easy to get caught up in the heady buzz of making money. You should regard money as fuel for what you really want to do, not as a goal in and of itself. Money is like gas in the car — you need to pay attention or you’ll end up on the side of the road — but a well-lived life is not a tour of gas stations!
http://radar.oreilly.com/2009/01/work-on-stuff-that-matters-fir.html

Click to read and post comments
Next → Page 1 of 22